Di bawah judul Dahaga Yang Lebih, Sebuah Sketsa tentang Erotik, Hardiman melukiskan erotik sebagai ritual interaksi personal dalam ruang intim. Dalam erotik ada penangguhan pelepasan hasrat dan pengabulannya, pencapaian kepuasan dan munculnya gairah baru, sebuah lingkaran hasrat akan tubuh yang akan dinikmatinya itu tak habis-habisnya menghasilkan dahaga baru.
Singkatnya, menurut Hardiman, erotik lebih daripada sekadar interaksi hormonal. Ia adalah interaksi personal dalam ruang intim yang tercipta oleh pengalaman kebertubuhan. Lantaran itu erotik juga merupakan permainan gairah dalam ruang imajinasi.
Ritual Kebertubuhan
Pengalaman kebertubuhan adalah sebuah ritual. Ritual itu berawal dari saling memandang dengan senyum (yang kadang genit). Lantas, mendekat dan sepasang pencinta merapatkan bibir, memagut, merasa dan menelan kehangatan. Elusan pada rambut, meraba, menyentuh, membuka kancing baju perlahan satu-satu, mendorong, menindih, mendesah, memejamkan mata, memeluk, bercengkarama dalam telanjang, mengejang, orgasme, lantas mengerang panjang dan akhirnya lelah-terkulai. Selesai.
Ritual itu bisa berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, bisa juga dalam sekejap. Dalam rentang waktu itu setiap pencinta mengarungi sebuah pengalaman yang tak terlukiskan. Sebuah ritual yang pada ujungnya menyisahkan paradoks. Ada keserentakan yang terjadi antara kepuasan dan ketidakpuasan, antara kenikmatan pada yang lebih dan ketakberdayaan, antara pesona yang jelas dalam ruang imajinasi dan keterbatasan penggambarannya.
Mengapa? Apa yang dirasakan ketika sepasang pencinta melaksanakan ritual itu sampai memuncak pada orgasme? Jawabannya beragam, ada yang melukiskan sebagai surga-dunia, nikmat, indah, bahagia, enak, dan ada yang hanya menjawab dengan ‘oh..oh..’. Ada pula yang tidak menjawab apa-apa, karena yang dirasakan dan dialaminya adalah sebuah pengalaman hampa kata, ‘hmm….em…tak dapat saya lukiskan dengan kata-kata, pokoknya…hm..hm..’ Inilah pengalaman personal, yang jawabannya hanya ada dalam ruang imajinasi sang pencinta.
Pertanyaan saya lebih lanjut adalah apa yang ada dalam ruang imajinasi sang pencinta itu? Tulisan ini mencoba untuk menemukan kandungan pengalaman hampa kata tersebut, sambil mencoba untuk menjelaskan tentang orgasme sesksual, cinta dan nafsu.
Dalam sekejap ribuan sperma menerobos masuk, berdesakan menelusuri dinding sanggama, saling menyisihkan, akhirnya hanya satu yang lolos, menyelam lebih ke dalam dan melebur bersama sel ovum. Ketika ritual itu sedang berlangsung tampak sang pencinta bagai kesurupan mengejang-ngejangkan ototnya sambil mengeluarkan kata dan kalimat yang patah, yang tidak dimengerti maksudnya. Inilah yang disebut sebagai orgasme. Pengalaman kebertubuhan.
Orgasme, di samping merupakan cipta hormonal, tetapi juga merupakan cipta imajinasi. Di sini keduanya berbenturan. Secara hormonal, orgasme terpuaskan. Ada pelepasan hasrat. Di sini seksualitas menunjukkan sang pencinta sebagai binatang. Binatang yang puas karena apa yang diusahakannya diperolehnya. Pada tataran ini orgasme merupakan puncak dari ritual hubungan seksual. Orgasme didefinisikan sebagai kepuasan. Sebuah penampakan dari orgasme dalam ruang imajinasi. Dalam tataran hormonal, orgasme seksual dapat didefinisikan.
Akan tetapi dalam ruang imajinasi, orgasme sebenarnya hanya merupakan penampakan dari ketidakjelasan. Ketika sang pencinta sedang bercinta, yang sedang bergolak dalam ruang imajinasinya adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan, ketidakpuasan, ketidaksempurnaan, dan juga ketidakjelasan.
Orgasme Dalam Ruang Imajinasi
Dalam ruang imajinasi orgasme seksual memiliki sesuatu yang “lebih”. Yang “lebih” itu tidak hanya kesempurnaan tetapi juga ketidaksempurnaan, kepuasan serentak juga ketidakpuasan, kenikmatan tetapi juga kesengsaraan. Orgasme yang terjadi secara hormonal hanya merupakan sebuah kenikmatan, kepuasan yang lolos dari pertentangan dasyat dalam ruang imaginasi.
Dalam ruang imajinasi paradoks itu berlangsung terus. Kesempurnaan melawan ketidaksempurnaan, kepuasan melawan keterbatasan, kelemahan melawan kekuatan dan seterusnya. Paradoks ini membuat ruang imajinasi sang pencinta senantiasa hidup. Paradoks ini pulalah yang mendorong sang pencinta untuk merasa tertarik pada kekasihnya.
Paradoks inilah yang membuat sepasang kekasih melebur dalam cinta. Paradoks ini juga memisahkan dua pribadi pencinta karena nafsu. Paradoks ini pulalah yang menenteramkan dunia. Paradoks ini pulalah yang membuat dunia tercabik-cabik. Paradoks ini pulalah – dalam konteks ini – yang membuat orgasme sesksual menjadi ritual yang tak terpuaskan.
Kesadaran Sang Pencinta
Orgasme seksual cipta gairah ruang imajinasi adalah sebuah bahan mentah, yang bersifat netral. Pengendali utama, yang berusaha untuk menciptakan orgasme seksual itu punya tempat yang jelas dan benar adalah kesadaran sang pencinta.
Ada dua medan penampakannya, yakni cinta dan nafsu. Kesadaran yang dikendalikan atas dasar cinta mampu menempatkan orgasme seksual dari ruang imajinasi itu secara benar dan jelas. Sedangkan yang dikendalikan oleh nafsu, orgasme seksual akan melahirkan malapetaka.
Rusaknya ritual kebertubuhan karena pengendali utamanya adalah nafsu. Di sini orgasme seksual dipandang sebagai pengkhianatan atas erotisme yang merupakan medan suci dalam ritual kebertubuhan. Pemerkosaan, bercinta dengan paksa, sodomi dan berbagai macam tindakan pelecehan seksual merupakan bukti nyata pengkhianatan pada erotisme. Kebencian, trauma, pembunuhan, balas demdam, marah dan sikap tidak menghargai merupakan dosa erotisme.
Sedangkan ritual kebertubuhan yang berlandaskan pada cinta merupakan pemurnian atas erotisme. Di sini, orgasme sesksual diterima sebagai sebuah kepuasan, karena ada penyerahan diri, kepasrahan yang tulus, yang terjadi di antara sepasang pencinta. Hubungan seksual antara sepasang suami istri merupakan bukti nyata orgasme seksual atas dasar cinta.
Orgasme Sebagai Pengutuhan
Akhirnya orgasme dalam erotisme juga merupakan sebuah pengutuhan. Pengalaman kebertubuhan atas dasar cinta itu sendiri merupakan pengutuhan. Ketakterlukiskan tentang orgasme dalam ruang imajinasi ditampakkan dalam bentuk orgasme seksual hormonal, membuktikan bahwa ada pengutuhan. Pengutuhan karena terjadi peleburan di antara sepasang pencinta. Orgasme seksual membuktikan secara jelas bahwa dua orang pencinta menjadi satu dalam ikatan cinta. Mereka tidak lagi dua melainkan satu.
Tetapi perlu dicatat bahwa orgasme seksual cipta gairah ruang imajinasi adalah sesuatu yang labil dan netral. Orgasme seksual atas dasar cinta melahirkan pengutuhan, sedangkan yang berlandaskan pada nafsu menceraikan. Pilihannya ada pada sang pencinta***.
***Kepustakaan :Awalnya tulisan ini dibuat karena “Orgazmo” sebuah film komedi porno yang oleh Los Angeles Times dijuluki sebagai ‘Bissfuly outrageuous’. Sebagai sebuah film komedi tentu yang ditampilkan adalah plesetan atas realitas, bahwa orgasme tidak hanya dapat terjadi harus dengan berhubungan badan, tetapi juga dengan Orgasmorator sejenis alat pembangkit gairah seks yang berpuncak pada orgasme. Dari sini lahirlah sebuah pertanyaan yang cukup serius ‘apa itu orgasme?. Jawaban atas pertanyaan inilah yang melahirkan tulisan kecil ini. Untuk memperkokoh argumentasi maka penulis mencoba mengelaborasi lebih lanjut uraian Franky Budi Hardiman tentang erotisme yang dimuat dalam Bentara Kompas, edisi Rabu 2 Juni 2004. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menguraikan pokok ini secara lebih eksplikatif-sosiologis ketimbang filosofis.
